BUTON UTARA – SIBERWP.COM
Keberadaan Cagar Budaya Benteng Bangkudu di Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara (Butur), Sulawesi Tenggara (Sultra), membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.
Di balik nilai sejarah dan budaya yang dimilikinya, keluarga juru kunci yang menjaga situs bersejarah tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, mulai dari sulitnya mendapatkan air bersih hingga kondisi rumah yang memprihatinkan.
Salah satu anak juru kunci Benteng Bangkudu mengungkapkan, kesulitan memperoleh air untuk kebutuhan sehari-hari telah mereka rasakan sejak lama.
Jarak antara kediaman mereka dan titik pengambilan air diperkirakan mencapai kurang lebih 300 meter dengan medan yang menanjak.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka harus berjalan membawa jergen berkapasitas 5 hingga 20 liter.
Kondisi ini semakin terasa ketika pelaksanaan tradisi tahunan Haroa di Benteng Bangkudu, yang biasanya dihadiri masyarakat dalam jumlah cukup banyak dan membutuhkan persediaan air lebih besar.
“Jarak rumah dengan titik pengambilan air kurang lebih 300 meter. Air ini sangat penting, apalagi saat pelaksanaan Haroa tahunan di Benteng Bangkudu. Kebutuhan air meningkat karena banyak warga yang datang untuk mengikuti tradisi tersebut,” ungkapnya.
Menurutnya, Benteng Bangkudu bukan sekedar bangunan bersejarah, melainkan bagian dari warisan budaya masyarakat yang harus dijaga bersama.
Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian khusus, termasuk mencari solusi agar kebutuhan air keluarga juru kunci dapat terpenuhi dengan lebih mudah.
“Harapan kami, pemerintah bisa melihat langsung kondisi yang kami alami dan mencarikan solusi. Kami menjaga situs bersejarah ini, tetapi kebutuhan dasar seperti air bersih juga sangat penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Berdasarkan pantauan media ini di lokasi, persoalan yang dihadapi keluarga juru kunci tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air. Kondisi rumah panggung yang mereka tempati juga membutuhkan perhatian.
Sejumlah bagian dinding papan pada sisi luar rumah terlihat telah lapuk. Kondisi tersebut menimbulkan kebutuhan akan perbaikan atau renovasi agar rumah tetap layak ditempati sekaligus mendukung keberlangsungan perawatan kawasan bersejarah tersebut.
Perhatian terhadap rumah juru kunci dinilai penting karena keberadaan mereka menjadi bagian dari upaya menjaga dan merawat Benteng Bangkudu.
Namun, langkah perbaikan tentu perlu dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan pelestarian cagar budaya yang berlaku.
Selain persoalan air dan kondisi rumah, akses menuju kediaman juru kunci juga menjadi keluhan warga yang menghadiri kegiatan Haroa.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengaku harus berjalan kaki dengan melewati jalur menanjak karena kendaraan bermotor tidak dapat menjangkau rumah tempat pelaksanaan Haroa tersebut.
Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan pembangunan jalan setapak agar akses menuju lokasi lebih mudah, baik bagi keluarga juru kunci maupun masyarakat yang datang mengikuti kegiatan adat.
“Pemerintah perlu memikirkan agar jalan setapak bisa dihadirkan di sini, sehingga pengunjung dapat lebih mudah mencapai lokasi, termasuk membawa kendaraan sampai ke atas,” keluhnya.
Menanggapi persoalan akses jalan, anak juru kunci Benteng Bangkudu menjelaskan bahwa rencana pembangunan jalan setapak sepanjang kurang lebih 200 meter sebenarnya pernah diupayakan untuk dianggarkan sejak 2022.
Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena adanya kendala persetujuan penggunaan lahan milik salah seorang warga yang berada pada jalur yang direncanakan.
Warga tersebut disebut belum memberikan izin karena terdapat tanaman di atas lahannya.
Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan, termasuk mencoba mengubah rute agar tidak melewati lahan tersebut.
Namun, perubahan jalur menghadapi kendala karena rute yang direncanakan merupakan akses yang telah digunakan sejak zaman orang tua terdahulu.
“Warga lainnya sebenarnya sudah sepakat, tetapi masih ada kendala persetujuan dari salah satu pemilik lahan karena terdapat tanamannya. Kami juga sudah berupaya mencari alternatif rute, tetapi belum menemukan jalan keluar karena jalur tersebut merupakan akses yang digunakan sejak dahulu,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat turun tangan memfasilitasi komunikasi antara pihak-pihak terkait untuk mencari solusi yang tidak merugikan pemilik lahan maupun mengabaikan kebutuhan akses masyarakat.
Berbagai persoalan tersebut menjadi perhatian yang perlu ditindaklanjuti secara bersama.
Penyediaan akses air bersih, perbaikan kondisi rumah juru kunci, serta pembangunan akses jalan yang layak menjadi kebutuhan yang diharapkan dapat dicarikan jalan keluarnya.
Kehadiran pemerintah daerah diharapkan tidak hanya sebatas melihat kondisi di lapangan, tetapi juga melakukan koordinasi dengan keluarga juru kunci, masyarakat, pemilik lahan, serta pihak terkait pelestarian cagar budaya untuk menentukan langkah yang memungkinkan.
“Kami berharap pemerintah daerah bisa membantu mencarikan solusi. Benteng Bangkudu ini merupakan warisan budaya kita bersama, sehingga sudah semestinya pelestarian dan kebutuhan orang-orang yang menjaganya menjadi perhatian bersama,” tutupnya.
Pelestarian cagar budaya tidak hanya menyangkut keberadaan bangunan dan nilai sejarahnya, tetapi juga membutuhkan perhatian terhadap lingkungan serta masyarakat yang selama ini berperan dalam menjaga warisan leluhur tersebut.
Kini, harapan keluarga juru kunci dan masyarakat tertuju pada langkah nyata pemerintah agar Benteng Bangkudu tetap terawat dan tradisi budaya di dalamnya dapat terus berlangsung dengan lebih baik.
Di tengah berbagai keterbatasan yang dihadapi keluarga juru kunci Benteng Bangkudu, fasilitas listrik saat ini sudah tersedia di kediaman mereka.
Listrik tersebut mulai diadakan pada masa kepemimpinan Bupati Buton Utara saat itu, Abu Hasan.
Keberadaan listrik menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap kebutuhan dasar keluarga yang tinggal dan menjaga kawasan cagar budaya tersebut.
Namun, ketersediaan listrik belum sepenuhnya menjawab persoalan yang mereka hadapi, terutama sulitnya memperoleh air bersih, kondisi rumah yang mulai lapuk, serta akses jalan menuju lokasi.
Karena itu, keluarga juru kunci berharap perhatian pemerintah daerah dapat berlanjut dengan mencari solusi terhadap kebutuhan-kebutuhan lainnya, sehingga mereka dapat menjalankan aktivitas sehari-hari sekaligus melanjutkan peran dalam menjaga warisan sejarah dan budaya Benteng Bangkudu.
Laporan: Redaksi



